Rabu, 15 Juni 2011

Dian Wahyu Utami


Melbourne, Australia, salah satu pusat mode baru di dunia, menjadi awal bagi Dian Pelangi, 20 tahun, merambah mancanegara. Di kota itu, pada Mei 2009, Dian diminta memamerkan koleksi busana muslimnya dalam peragaan yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata. Yang lebih mengagetkan Dian, yang menjadi anggota termuda Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia, dia berbagi catwalk dengan perancang busana muslim senior Indonesia, Iva Latifah.

Peragaan busana itu sukses. Seusai peragaan, Dian didatangi banyak orang yang kaget atas rancangannya dan mengaku belum pernah melihat yang seperti itu. Bahkan koranThe Age mengulas peragaan busana Dian.

Buntut dari peragaan busana, selain busana rancangannya laris manis di butik Fame Agenda, di Melbourne Central, Chairman Melbourne Fashion Week Laura Anderson menjadi salah satu pelanggannya. "Nanti kalau ada Melbourne Fashion Week siap-siap ikut, ya?" begitu kata Laura seperti ditirukan Dian. Meski belum ada ajakan untuk peragaan busana di pergelaran itu, Laura masih ingat kepadanya. "Dia memborong pada Februari lalu," kata pemilik nama lengkap Dian Wahyu Utami ini. 

Busana Dian memang spesial untuk perempuan muslim. "Tapi juga dirancang tetap bagus tanpa kerudung," ujarnya. Karena itu, busana rancangannya laris manis saat digelar pameran, pun ketika dijual di butik. Selain Melbourne, Dian berencana membuka butik di Perth dan Sydney.

Tidak hanya di Australia, kreasi Dian juga tersedia di butik Sauce di Abu Dhabi, Dubai, setelah menggelar peragaan busana yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan pada Oktober 2009. Berikutnya, si pemilik meminta baju-baju Dian rutin dikirim ke butiknya. "Tapi masih belum bisa dipenuhi karena selalu habis di Indonesia." 

Butik-butik Dian Pelangi yang diwariskan orang tuanya ada di Jakarta, Pekalongan, Surabaya, Palembang, Pekanbaru, dan Medan ibarat menjual kacang goreng. Produksi sampai 2.000 helai pakaian setiap tiga bulan selalu habis dibeli pelanggan. 

Memang peran orang tua sangat mempengaruhi Dian memilih profesi dan bisnis di bidang fashion. Orang tuanya memulai bisnis garmen di rumah pada 1991. Ayah Dian, Djamaloedin Sindon, berasal dari keluarga pembuat batik di Pekalongan. Adapun ibunya, Hernani Mansyur, yang asli Palembang, Sumatera Selatan, memahami teknik pembuatan kain jumputan.
Ayahnyalah yang memasukkan Dian ke sekolah menengah kejuruan begitu lulus dari SMP di Bogor. Masuklah Dian ke SMK Negeri 1 Pekalongan Jurusan Tata Busana. Lima tahun lalu, Dian stres dan kerap menangis sepulang sekolah lantaran teringat ejekan teman-temannya yang memilih melanjutkan ke SMA.

"Kok, Papa jahat sih ke aku?" bisiknya setiap kali menangis. "Emang mau jadi tukang jahit, ya? Kampung banget, sih," ujar Dian mengenang kata-kata teman-temannya. Tapi lambat-laun dia bersyukur bisa bersekolah di sekolah kejuruan. "Jiwa sosial saya malah teruji," katanya. Melihat teman-temannya yang kurang beruntung membuka mata Dian tentang keberuntungannya. 

Setamat SMK, Dian langsung diserahi tanggung jawab mengelola butik yang dipegang ibunya di Jakarta. Padahal usianya baru 16 tahun kala itu. Dia juga melanjutkan kuliah di sekolah mode ESMOD selama setahun. 

Lingkungan inilah yang membentuk Dian menapaki sukses sebagai perancang busana di usia 19 tahun. Namanya sudah didengar para pemilik butik di Turki, Jerman, Belgia, dan Dubai. Tapi desain khusus untuk negara Eropa membuat Dian masih belum bisa memenuhi permintaan dari negara-negara itu.

Namun tekadnya tetap menjual Indonesia dengan busana khas muslim buatan Indonesia. Kain tradisional menjadi bahan utama setiap rancangannya. Mulai songket, batik, sampai jumputan menjadi unggulan. Rahasianya, mengetahui selera setempat. "Model mantel untuk Eropa, model yang adem di Timur Tengah."

Cita-cita istri Tito Prasetyo ini ingin membuat Indonesia jadi pusat mode busana muslim dunia. Selain itu, ia ingin membuat adibusana muslim Indonesia. "Belum ada haute couture busana muslim." Plus mendistribusikan busana rancangan Dian Pelangi ke negara-negara yang sudah memintanya. "Saya mau go international."

5 komentar:

CeritaCrita mengatakan...

I Love Dian Pelangi so much....:D

Ayutoda mengatakan...

Lanjutkan...^^

EdunEdan mengatakan...

klo seandainya itu baik untuk muslimah saya doakan biar lancar usahanya,, tapi bila itu merusak islam itu sendiri... maka saya lah orang yang pertama menuntut anda di akherat nanti...

Unknown mengatakan...

Be positive for future..... Maju Terus busana muslimah Indonesia Dan sesuai dg aqidah yg sebenarnya..... Semangattttt

tamuse mengatakan...

like banget ma mbak dian.
jadi pengen jdi desainer juga dehhh...

Poskan Komentar